Arjjawa

Wayah Tekané Durjana - Waktu Kedatangan Pencuri

🚨 WAYAH TEKANÉ DURJANA 🚨

⚠️ PERHATIAN: Waktu Kedatangan Pencuri Berdasarkan Kategori Adam, Kawa, Iblis ⚠️
🔒 INFORMASI PENTING: Neptuné dína lan pasaran nalika maling kagunggung banjur kapétung adam, kawa, iblis 🔒

Perhitungan Waktu Kedatangan Pencuri Menurut Perhitungan Jawa

Wayah tekané durjana. - Perhitungan Jawa tentang waktu kedatangan pencuri berdasarkan neptu hari dan pasaran.

Kategori Rentang Waktu Kedatangan Keterangan
👤 ADAM Jam 7 malam - Jam 12 malam Jika jatuh pada kategori Adam, pencuri akan datang antara jam 7 malam hingga jam 12 malam
🐍 KAWA Jam 12 malam - Jam 3 pagi Jika jatuh pada kategori Kawa, pencuri akan datang antara jam 12 malam hingga jam 3 pagi
😈 IBLIS Jam 3 pagi - Jam 5 pagi Jika jatuh pada kategori Iblis, pencuri akan datang antara jam 3 pagi hingga jam 5 pagi

📖 Interpretasi dan Penjelasan

"Neptuné dína lan pasaran nalika maling kagunggung banjur kapétun adam, kawa, iblis."

Artinya: Neptu (nilai numerik) hari dan pasaran ketika pencuri melakukan aksinya kemudian dikategorikan menjadi Adam, Kawa, atau Iblis.

Penjelasan Kategori:

  • ADAM: Melambangkan waktu awal malam, ketika manusia masih dalam kondisi sadar dan waspada.
  • KAWA: Melambangkan waktu tengah malam, ketika sebagian besar orang sudah tertidur lelap.
  • IBLIS: Melambangkan waktu fajar, ketika orang mulai bangun tetapi masih dalam kondisi mengantuk.

Dalam perhitungan ini didasarkan pada sistem neptu (nilai numerik) dari kombinasi hari dan pasaran. Setiap kombinasi memiliki nilai neptu tertentu yang kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori di atas.

⚠️ CATATAN PENTING: Informasi dalam tabel ini adalah bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Pengetahuan ini sebaiknya dipahami sebagai kearifan lokal dan budaya, bukan sebagai patokan ilmiah atau jaminan keamanan.

Untuk keamanan yang sebenarnya, selalu prioritaskan tindakan pengamanan praktis seperti mengunci pintu, memasang sistem keamanan, dan menjaga kewaspadaan.

Tabel Wayah Tekané Durjana (Waktu Kedatangan Pencuri)

Sumber: Naskah Jawa Wayah tekané durjana

© Warisan Budaya Jawa | Untuk keperluan edukasi dan pelestarian tradisi

Dina Taliwangké - Kalender Jawa

Dina Taliwangké

Penanggalan Tradisional Jawa

Taliwangké/Larangan adalah bagian dari sistem penanggalan Jawa. Dalam satu siklus wuku (30 wuku), terdapat 6 hari Taliwangké. Hari-hari ini dianggap penting dan perlu diperhatikan dalam berbagai aktivitas.

Tabel Dina Taliwangké

Ing Wuku Arané Dina Taliwangké Karepé Ngarani Dina Lambangé
1. Wuyé Somayé Senen Kliwon Pasangan manuk
2. Wayang Anggarayang Slasa Legi Téja lumaku patine andaka wana
3. Landep Bodanep Rebo Paing Iwak pringga mati
4. Warigalit Warigamls Kemis Pon Jalma mati
5. Kuningan Sukraingan Jumuah Wagé Tuwuhan gagar
6. Kuruwelut Tumpakloté Setu Kliwon Kapas agring

Catatan: Dina Taliwangké dianggap sebagai hari sengkala dan perlu diperhatikan dalam berbagai kegiatan penting menurut tradisi Jawa.

Informasi Tambahan

Selain Dina Taliwangké, dalam sistem penanggalan Jawa juga dikenal Dina Samparwangké. Kedua konsep ini merupakan bagian dari perhitungan hari baik dan hari naas dalam tradisi Jawa.

Dokumentasi Tradisi Jawa

© 2026 - Disajikan untuk pelestarian budaya

Alamate Lindhu: Pertanda Gempa dalam Primbon Jawa

🌋 Alamate Lindhu

Pertanda Gempa Berdasarkan Bulan Jawa dalam Primbon

Berdasarkan Naskah Jawa No. 235 & 236 - Ngālamaté lindhu & grahana

Dalam tradisi Jawa, fenomena alam seperti gempa bumi (lindhu) dianggap memiliki makna dan pertanda tertentu yang terkait dengan waktu kejadiannya. Pengetahuan ini tercatat dalam primbon Jawa sebagai pedoman untuk memahami tanda-tanda alam dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat.

Tabel berikut menunjukkan tafsir gempa berdasarkan bulan Jawa (sasi) dan waktu kejadiannya (siang/awan atau malam/bengi). Setiap kombinasi bulan dan waktu memiliki makna tertentu yang diyakini sebagai pertanda untuk masyarakat.

Tabel Pertanda Gempa (Ngālamaté Lindhu) Berdasarkan Bulan Jawa

No. Bulan Jawa Waktu Pertanda / Makna
1 Sura Siang (Awan) Akèh lelara lan prihatin (Banyak penyakit dan kesusahan)
Malam (Bengi) Larang pangan (Harga makanan mahal)
2 Sapar Siang (Awan) Akèh wong padha ngalih panggonan (Banyak orang pindah tempat)
Malam (Bengi) Wong padha kapēnak, kēwan ora kurang rarambanan (Orang senang, hewan tidak kekurangan makanan)
3 Mulud Siang (Awan) Akèh uwong pitenahan (Banyak orang difitnah)
Malam (Bengi) Akèh udan angin (Banyak hujan angin)
4 Rabingulakir Siang (Awan) Akèh pasulayan lan papati (Banyak perselisihan dan kematian)
Malam (Bengi) Akèh prahara, udan angin, wong akèh nikmat (Banyak badai, hujan angin, orang banyak mendapat kenikmatan)
5 Jumadilawal Siang (Awan) Wong padésan akèh pasulayan, pitenah lan kadurjanan (Orang desa banyak perselisihan, fitnah dan kejahatan)
Malam (Bengi) Palagunnantung padha gogrog katiga dawa, panas banger (Tanaman merambat banyak mati, musim panas panjang, panas sekali)
6 Jumadilakir Siang (Awan) Akèh maksiyat, katiga dawa (Banyak kemaksiatan, musim panas panjang)
Malam (Bengi) Wong padha tenirem atiné (Orang banyak yang tenteram hatinya)
7 Rejeb Siang (Awan) Pageblug raja kaya (Wabah penyakit menular seperti raja)
Malam (Bengi) Ing padesan akèh durjana banjur padha ngalih panggonan (Di desa banyak penjahat lalu pindah tempat)
8 Ruwah Siang (Awan) Akèh lelara lan larang pangan (Banyak penyakit dan harga makanan mahal)
Malam (Bengi) Akèh wong seneng lan murah sandhang pangan (Banyak orang senang dan murah sandang pangan)
9 Pasa Siang (Awan) Wong padesan padha tukaran (Orang desa saling bertukar)
Malam (Bengi) Wong padesan akèh padha ngalih panggonan (Orang desa banyak pindah tempat)
10 Sawal Siang (Awan) Wong padesan padha prihatin (Orang desa banyak susah/sederhana)
Malam (Bengi) Wong padesan padha tukaran, akèh kang mbangkang préntah (Orang desa saling bertukar, banyak yang membangkang perintah)
11 Dulkaidah Siang (Awan) Akèh supatané wong tuwa, wong agung padha sujaya, wong padesan akèh padha lali maring wong tuwané (Banyak doa orang tua, orang besar menang, orang desa banyak lupa pada orang tuanya)
Malam (Bengi) Akèh wong mati lan ngalih nagara (Banyak orang mati dan pindah negeri)
12 Besar Siang (Awan) Ana pageblug, akèh dukacipta (Ada wabah, banyak kesedihan)
Malam (Bengi) Akèh udan sarta nemu raharja suka slamet sakabèhé (Banyak hujan serta menemukan kemakmuran, gembira selamat semuanya)

Catatan: Penanggalan Jawa memiliki 12 bulan dengan nama-nama yang berbeda dari penanggalan Masehi. Bulan Sura setara dengan Muharram, Sapar dengan Shafar, dan seterusnya sesuai dengan penanggalan Hijriyah dengan adaptasi bahasa Jawa.

Tabel Pertanda Gerhana (Ngalamaté Grahana)

No. Bulan Jawa Pertanda / Makna
1 Sura Akèh rereu, wong padha mungkin marang Allah (Banyak pertikaian, orang banyak ingat pada Allah)
2 Sapar Akèh angin pancawara, larang udan, larang beras pari (Banyak angin lima hari, hujan langka, beras mahal)
3 Mulud Akèh udan angin sindhung riwut, tatanduran akèh rusak ing padesan katrajang pageblug, akèh wono (Banyak hujan angin dan keributan, tanaman banyak rusak di desa tertimpa wabah, banyak kebakaran)
4 Rabingulakir Akèh ... (Data tidak lengkap dalam naskah)

Interpretasi dan Makna Filosofis

Cara membaca tabel: Tabel ini menunjukkan pertanda yang diyakini terjadi berdasarkan bulan Jawa ketika terjadi gempa bumi. Setiap bulan memiliki dua tafsir: untuk gempa yang terjadi pada siang hari (awan) dan malam hari (bengi).

Makna Filosofis: Tradisi Jawa melihat hubungan erat antara fenomena alam dengan kehidupan sosial masyarakat. Gempa bumi dianggap sebagai "pesan" dari alam yang memberikan peringatan atau pertanda tentang kondisi masyarakat, pertanian, ekonomi, dan sosial.

Contoh pola yang terlihat:

  • Beberapa bulan memiliki pertanda buruk baik siang maupun malam (seperti Sura, Rejeb)
  • Beberapa bulan memiliki pertanda baik di malam hari meski siangnya buruk (seperti Ruwah, Besar)
  • Pertanda sering berkaitan dengan aspek kehidupan: kesehatan (lelara), ekonomi (larang pangan), sosial (pasulayan), dan pertanian (katanaman)

Catatan Penting: Pengetahuan tradisional ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Tafsir gempa dan gerhana ini sebaiknya dipahami dalam konteks budaya dan sejarah, bukan sebagai ramalan ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan modern, gempa bumi disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik dan tidak terkait dengan pertanda sosial tertentu.

Namun, nilai penting dari tradisi ini adalah bagaimana masyarakat Jawa berusaha memahami dan memberi makna pada fenomena alam, serta mengaitkannya dengan kehidupan sosial dan moral masyarakat.

Tabel Pertanda Gempa berdasarkan Bulan Jawa | Primbon Jawa

Ngālamaté lindhu

© Warisan Budaya Jawa | Untuk keperluan edukasi dan pelestarian tradisi

Tafsir Kuping Panas (Ngalamate Kuping Krasa Panas)

Tafsir Kuping Panas

"Nyalamaté gokhohing kuping krasa panas" - Primbon Jawa

No. 228. Nyalamaté gokhohing kuping krasa panas

Dalam tradisi Jawa, kuping yang terasa panas (gokhohing kuping krasa panas) juga dianggap memiliki makna tertentu tergantung pada jam dan telinga mana yang terasa panas. Kepercayaan ini merupakan bagian dari primbon Jawa yang memberikan petunjuk tentang kejadian yang akan datang.

Menunjukkan tafsir berdasarkan waktu (jam) dan sisi telinga yang terasa panas (kiwa/kiri atau tengen/kanan), baik pada siang (awan) maupun malam hari (bengi).

Pertanda Baik
Pertanda Buruk
Pertanda Netral
Tafsir untuk Siang Hari (Awan)
Jam Kiwa (Kiri) Terasa Panas Tengen (Kanan) Terasa Panas
7 - 8 Netral Ana prakara (Ada urusan/perkara) Buruk Papadon (Ada masalah/pertengkaran)
8 - 10 Netral Ana paêkan (Ada pekerjaan/tugas) Buruk Kélangan (Akan kehilangan sesuatu)
11 - 12 Baik Dagangané payu (Dagangan akan laris) Baik Olèh rijeki (Akan mendapat rezeki)
1 - 2 Baik Rembugan becik (Musyawarah yang baik) Baik Kedhayohan (Akan mendapat kabar baik)
3 - 4 Baik Rembugan wigati (Musyawarah penting) Baik Katekan wanttá (Bertemu wanita)
5 - 7 Baik Diajak mangan énak (Diajak makan enak) Baik Olèh kauntungan (Mendapat keuntungan)
Tafsir untuk Malam Hari (Bengi)
Jam Kiwa (Kiri) Terasa Panas Tengen (Kanan) Terasa Panas
7 - 8 Netral Arep prakaran (Akan ada urusan/perkara) Buruk Dipitnah wong (Difitnah orang)
9 - 10 Buruk Kélangan (Akan kehilangan sesuatu) Buruk Dirasani wong (Akan dibicarakan orang)
11 - 12 Baik Wong tuwané teka (Majikan/datang orang tua datang) Baik Katekan mantri (Bertemu pejabat)
1 - 2 Baik Olèh rijeki akèh (Mendapat banyak rezeki) Baik Nemu mukti (Menemukan kebahagiaan/kemakmuran)
3 - 4 Buruk Dirasani wantta (Dibicarakan wanita) Baik Diundang mangan énak (Diundang makan enak)
5 - 6 Baik Wong tulung becik (Orang yang membantu dengan baik) Baik Katekan sanak (Bertemu sanak saudara)

Interpretasi dan Penggunaan Tabel

Cara membaca tabel: Tabel ini digunakan untuk menafsirkan makna dari kuping yang terasa panas berdasarkan waktu (jam) dan sisi telinga yang terasa panas. Perhatikan bahwa rentang jam tidak berurutan secara lengkap, hanya jam-jam tertentu yang memiliki tafsir.

Contoh: Jika kuping kiri terasa panas pada pukul 11-12 siang, maka tafsirnya adalah "Dagangané payu" (Dagangan akan laris). Jika kuping kanan terasa panas pada pukul yang sama, tafsirnya adalah "Olèh rijeki" (Akan mendapat rezeki).

Perbedaan siang dan malam: Tafsir untuk kuping panas berbeda antara siang hari (awan) dan malam hari (bengi). Jam yang sama (misalnya 7-8) memiliki tafsir yang berbeda tergantung waktu harinya.

Catatan Penting: Tafsir kuping panas ini adalah bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Interpretasi ini sebaiknya dipahami sebagai kearifan lokal dan tidak dijadikan sebagai patokan mutlak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor lain yang lebih penting dalam menentukan tindakan dan keputusan kita.

Tafsir Kuping Panas (Ngalamate Kuping Krasa Panas) | Primbon Jawa

©2026 Warisan Budaya Jawa | Untuk keperluan edukasi dan pelestarian tradisi

Tabel Tafsir Kuping Berdenging (Mum Ngīng-ngīng) - Primbon Jawa

Tabel Tafsir Kuping Berdenging

"Ngāžanaté kuping mum ngīng-ngīng" - Primbon Jawa

No. 227. Ngāžanaté kuping mum ngīng-ngīng

Dalam tradisi Jawa, kuping yang berdenging (mum ngīng-ngīng) dianggap memiliki makna tertentu tergantung pada jam dan telinga mana yang berdenging. Kepercayaan ini tercatat dalam primbon Jawa sebagai petunjuk tentang kejadian yang akan datang.

Tabel ini menunjukkan tafsir berdasarkan waktu (jam) dan sisi telinga yang berdenging (kiwa/kiri atau tengen/kanan), baik pada siang (awan) maupun malam hari (bengi).

Pertanda Baik
Pertanda Buruk
Pertanda Netral
Tafsir untuk Siang Hari (Awan)
Jam Kiwa (Kiri) Berdenging Tengen (Kanan) Berdenging
6 - 7 Baik Kadhayohan (Akan mendapat kabar baik) Buruk Kangélan (Akan mengalami kesusahan)
7 - 8 Baik Lumaku adoh (Akan bepergian jauh) Buruk Dirasani wong (Akan dibicarakan orang)
8 - 9 Baik Sadulur teka (Saudara akan datang) Buruk Lunga adoh (Akan pergi jauh)
9 - 10 Baik Arep ana begjané (Akan ada keberuntungan) Buruk Cilaka gedhé (Akan mengalami kecelakaan besar)
10 - 11 Baik Nemu slamet (Akan menemukan keselamatan) Netral Ana pradondi (Akan ada gangguan)
11 - 12 Baik Sadulur teka (Saudara akan datang) Netral Tampa layang (Akan menerima surat)
12 - 1 Buruk Arep lara (Akan sakit) Baik Sadulur adoh teka (Saudara dari jauh akan datang)
1 - 2 Buruk Kélangan sadulur adoh (Kehilangan saudara jauh) Baik Mangan єnak (Akan makan enak)
2 - 3 Baik Dhayoh teka (Tamu akan datang) Buruk Kacilakan (Akan mengalami kecelakaan)
3 - 4 Baik Arep lumaku (Akan bepergian) Baik Sadulur adoh teka (Saudara dari jauh akan datang)
4 - 5 Baik Sadulur teka (Saudara akan datang) Baik Arep lelungan (Akan bepergian)
5 - 6 Baik Begja gedhé (Keberuntungan besar) Baik Gedhé begjané (Keberuntungan besar)
Tafsir untuk Malam Hari (Bengi)
Jam Kiwa (Kiri) Berdenging Tengen (Kanan) Berdenging
6 - 7 Baik Nemu slamet (Akan menemukan keselamatan) Buruk Kélangan (Akan kehilangan sesuatu)
7 - 8 Baik Dikasihi wanita (Akan disayangi wanita) Buruk Dirasani sanak dhéwé (Akan dibicarakan sanak sendiri)
8 - 9 Baik Kadhayohan (Akan mendapat kabar baik) Baik Olèh rijeki (Akan mendapat rezeki)
9 - 10 Baik Diundang mangan єnak (Akan diundang makan enak) Baik Gedhé begjané (Keberuntungan besar)
10 - 11 Baik Olèh rijeki (Akan mendapat rezeki) Baik Slamet (Akan selamat)
11 - 12 Buruk Alangan gedhé (Rintangan besar) Baik Ana wong dhemen (Ada orang yang menyukai)
12 - 1 Baik Sejané gampang (Segala sesuatu akan mudah) Baik Sanak pitutur (Sanak memberi nasihat)
1 - 2 Baik Ana rembug becik (Ada musyawarah yang baik) Netral Ana papadon (Ada masalah/pertengkaran)
2 - 3 Buruk Arep padu (Akan bertengkar) Baik Slamet (Akan selamat)
3 - 4 Netral Ana prakara (Ada urusan/perkara) Buruk Kélangan arta (Kehilangan harta)
4 - 5 Baik Olèh pagawéyan becik (Akan mendapat pekerjaan baik) Buruk Kélangan (Akan kehilangan sesuatu)
5 - 6 Baik Dhayoh sanak ana rembug (Tamu/sanak ada musyawarah) Buruk Cilaka gedhé (Kecelakaan besar)

Interpretasi dan Penggunaan Tabel

Cara membaca tabel: Tabel ini digunakan untuk menafsirkan makna dari kuping yang berdenging berdasarkan waktu (jam) dan sisi telinga yang terdengar dengungannya.

Contoh: Jika kuping kiri berdenging pada pukul 9-10 pagi, maka tafsirnya adalah "Arep ana begjané" (Akan ada keberuntungan). Jika kuping kanan berdenging pada pukul yang sama, tafsirnya adalah "Cilaka gedhé" (Akan mengalami kecelakaan besar).

Perbedaan siang dan malam: Perhatikan bahwa tafsir berbeda antara siang hari (awan) dan malam hari (bengi). Jam yang sama bisa memiliki tafsir berbeda tergantung waktu harinya.

Catatan Penting: Tafsir kuping berdenging ini adalah bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Interpretasi ini sebaiknya dipahami sebagai kearifan lokal dan tidak dijadikan sebagai patokan mutlak dalam kehidupan sehari-hari.

Tafsir Kuping Berdenging (Mum Ngīng-ngīng)

©2026 Warisan Budaya Jawa | Untuk keperluan edukasi dan pelestarian tradisi

Wataking Dina: Watak Hari dalam Kalender Jawa

ꦮꦠꦏꦶꦁꦢꦶꦤ

Wataking Dina: Watak dan Karakter Hari dalam Tradisi Jawa

No. 109. Wataking dina - Naskah Tradisi Jawa

"seba rata urawa mantri becik, arajang mungsuh becik"

(Hormat sama rata kepada pejabat yang baik, mengatur musuh dengan baik)

Dalam kebudayaan Jawa, setiap hari dalam seminggu diyakini memiliki watak atau karakteristik tertentu yang mempengaruhi kehidupan dan nasib seseorang. Pengetahuan ini tercatat dalam naskah-naskah kuno seperti "Wataking Dina" yang memberikan gambaran tentang sifat dan kecenderungan masing-masing hari.

Kepercayaan ini digunakan oleh masyarakat Jawa tradisional dalam menentukan waktu yang tepat untuk memulai kegiatan penting, melaksanakan upacara adat, atau memahami watak seseorang berdasarkan hari kelahirannya.

Tabel Wataking Dina (Watak Hari Jawa)

No. Hari Jawa Watak / Karakteristik
1 1Akad (Minggu) Becik, samudana, kalayu éla-êlu (Baik, mulia, tetapi mudah terpengaruh hal-hal buruk)
2 2Senèn (Senin) Semua barang patrapé (Semua tindakannya sesuai/patut)
3 3Slasa (Selasa) Sujana tan andélan, butarepan (Orang baik tetapi tidak dapat diandalkan, terburu-buru)
4 4Rebo (Rabu) Sembada, sebarang patut, rada sembrana (Cukup, segala sesuatu patut, agak sembrono)
5 5Kemis (Kamis) Ahlí surasa, mada, ngalem, lumuh kungkulan (Ahli rasa, halus, lembut, tetapi mudah menyerah)
6 6Jumuah (Jumat) Semuci-suci kuda-kudu resik (Sangat suci, harus bersih)
7 7Setu (Sabtu) Srakah barang karepé lan sumbung (Rakus akan keinginannya dan sombong)

Catatan: Pengetahuan tradisional ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang mencoba memahami hubungan antara waktu (hari) dengan karakter manusia. Nilai-nilai ini sebaiknya dipahami dalam konteks budaya dan bukan sebagai penilaian mutlak terhadap seseorang.

Interpretasi dan Makna Filosofis

Akad (Minggu)

Hari yang dianggap baik dan mulia, tetapi orang yang lahir di hari ini perlu berhati-hati karena mudah terpengaruh hal-hal negatif. Dalam tradisi Jawa, hari Minggu sering dikaitkan dengan awal yang baru.

Senèn (Senin)

Hari dengan karakter yang stabil dan patut. Orang yang lahir di hari Senin diyakini memiliki tindakan yang sesuai dengan norma dan aturan.

Slasa (Selasa)

Meskipun memiliki niat baik, orang yang lahir di hari Selasa dianggap kurang dapat diandalkan dan cenderung terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Rebo (Rabu)

Hari dengan karakter "cukup" dan segala sesuatu dianggap patut. Namun, ada kecenderungan agak sembrono dalam tindakan.

Kemis (Kamis)

Hari dengan sifat halus, lembut, dan peka perasaan. Orang yang lahir di hari Kamis dianggap ahli dalam merasakan sesuatu, tetapi mudah menyerah.

Jumuah (Jumat)

Hari yang sangat suci dalam tradisi Jawa. Orang yang lahir di hari Jumat diyakini harus menjaga kebersihan dan kesucian dalam hidupnya.

Setu (Sabtu)

Hari dengan karakter yang perlu diwaspadai karena cenderung rakus dan sombong. Orang yang lahir di hari Sabtu perlu belajar mengendalikan keinginan dan kesombongan.

Pengetahuan tradisional ini merupakan warisan budaya yang menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa memahami hubungan antara waktu, karakter manusia, dan kehidupan.

Tabel Wataking Dina | Pengetahuan Tradisional Masyarakat Jawa

Sumber: Naskah Jawa No. 109 - Wataking dina

© Warisan Budaya Jawa | Untuk keperluan edukasi dan pelestarian tradisi

72

Cari Blog Ini

Sitemap

........................................................................................................................................................................